Home » Uncategorized » Belum Memungkinkan Honorer Kab. Bandung Diangkat – Pikiran Rakyat

SOREANG, (PRLM).- Dengan belanja pegawai yang sudah mencapai 65 persen dari total anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), Kabupaten Bandung belum mungkin untuk menambah jumlah pegawai negeri sipil (PNS/ASN). Kondisi tersebut berimbas minimnya peluang guru honorer untuk promosi menjadi calon PNS/ASN.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bandung Arifin Sobari seusai melakukan audiensi bersama puluhan guru honorer yang tergabung dalam Forum Komunikasi Guru Honorer Sekolah (FKGHS) Kabupaten Bandung di ruang Badan Musyawarah DPRD, Selasa (14/2/12).

Dalam pertemuan tersebut, FKGHS mendesak DPRD agar mendorong Pemkab Bandung untuk segera membarui data jumlah dan sebaran guru honorer yang ada. “Pengangkatan CPNS/CASN berdasarkan data, jadi data yang valid harus segera diperbarui,” ujar Sekretaris Umum FKGHS Kabupaten Bandung Dadang Karsana.

Dadang paham betul bahwa moratorium pemerintah pusat memang belum memungkinkan rekrutmen PNS/ASN baru. Namun, celah untuk tambahan tenaga medis dan tenaga pelajar harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemkab guna mengakomodir nasib guru honorer.

Menurut Dadang, jika Pemkab bisa menerbitkan peraturan daerah untuk memanfaatkan celah itu, setidaknya ada harapan bagi guru honorer pasca moratorium. Hal tersebut dinilai sentral, karena FKGHS sampai akhir 2010 masih mencatat jumlah guru honorer di Kabupaten Bandung mencapai 10.000 lebih dan terus bertambah.

Sebagai alternatif, tambah Dadang, Pemkab juga diharapkan memberikan solusi kegiatan tambahan agar para guru honorer bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa terfokus mengejar status CPNS/CASN. “Kami berharap guru honorer diberi program tambahan agar tidak CPNS/CASN oriented,” katanya.

Sementara itu Ilyas Sofyan (28), menilai nasib guru honorer lebih kurang beruntung dibandingkan buruh. Jika para buruh mashi bisa menuntut UMK dan dipenuhi, guru honorer sampai saat ini masih bertahan dengan upah sesuai kemampuan sekolah.

Ilyas mengaku, dirinya sudah delapan tahun menjadi guru honorer di SD Cijembar, Pangalengan. Upah yang ia terima selama itu baru mengalami peningkatan dari Rp 125.000 sampai Rp 450.000 per bulan. “Untuk menutup kebutuhan terpaksa cari tambahan dari kegiatan lain seperti menjadi tukang ojek atau apapun yang halal,” ujarnya. (A-178/A-88)***



Posting Pusat Pengumuman CPNS Indonesia (PPCI) lainnya:



There Is 1 Response So Far. »

  1. Dananya habis buat anggota dewan yang terhormat yang kerjanya mangkir dan tidur, dibanding dengan guru honorer yang bener-bener mendidik anak bangsa dengan honor cuma Rp.150000-300000