Home » Uncategorized » Sekolahkan Dokter Umum hingga Berburu Spesialis

Kabupaten Kapuas Hulu masih beruntung. Di ujung aliran Sungai Kapuas itu masih ada tiga dokter spesialis, yakni spesialis bedah, anak, dan kebidanan di Putussibau. Sedangkan 30 dokter umum ditempatkan di rumah sakit dan puskesmas kecamatan.

“Sebenarnya jumlah dokter kita memadai, karena hampir semua puskesmas di Kapuas Hulu sudah dilayani dokter umum. Hanya puskesmas di Puring Kencana dan Bika belum ada dokternya,” ungkap dr H Harisson Mkes, Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, kepada Equator via selular Rabu (8/2).

Harus diakui dokter spesialis masih kurang. Setidaknya Uncak Kapuas butuh spesialis penyakit dalam, saraf, anestesi, patologi klinik, THT, dan mata, sebagai kebutuhan ideal pelayanan kesehatan masyarakat di semua kabupaten.

Bukan hanya karena pendidikan spesialis sangat mahal yang setiap strata 2 itu perlu ratusan juta rupiah, bahkan miliar. Yang utama lantaran Kementerian Kesehatan pusat tidak bisa menempatkan dokter spesialis begitu saja di daerah.

“Tergantung daya tarik dokternya atau kemampuan daerah mendatangkan spesialis. Baik itu insentif, fasilitas, dan lainnya yang bisa membuat dokter spesialis mau dan betah,” ungkap Harisson.

Tidak heran kalau Bupati KH memberikan insentif Rp 15 juta sebulan, rumah layak, dan mobil dinas untuk setiap spesialis, masih dirasakan kurang. Menurut Harisson, besaran insentif untuk spesialis di Kapuas Hulu lebih kurang sama dibandingkan kabupaten lain. Belum lagi letak geografis Kapuas Hulu lebih jauh dibandingkan kabupaten lain.

“Misalnya insentifnya sama dengan Kabupaten Sintang. Tentu dokter spesialis tersebut memilih Sintang daripada harus bertugas di Kapuas Hulu. Karena Sintang lebih dekat atau faktor lainnya,” ungkap Harisson kepada Arman Hairiadi dari Equator.

Nah, Kadinkes Kapuas Hulu putar otak dengan memacu dokter-dokter umum yang bertugas di Uncak Kapuas mau disekolahkan mengambil spesialis. Dananya dari Kemenkes ditambah tunjangan belajar dari pemkab. Setelah lulus kembali lagi ke Kapuas Hulu. “Dengan begitu mereka jadi terikat dengan daerah. Ini salah satu strategi untuk mengikat dokter-dokter spesialis agar tetap bertugas di Kapuas Hulu,” ujarnya.

Strategi ini sudah berjalan dan beberapa dokter umum kini tengah studi spesialis. “Saat ini kita sedang sekolahkan dokter spesialis bedah, anak, penyakit dalam, kebidanan, anestesi, mata, dan radiologi. Kemungkinan pada 2013 nanti banyak yang tamat,” tutur Harisson.

Kabupaten Bengkayang termasuk serius menghadirkan dokter spesialis. Setakat ini pemkab menyekolahkan lima dokter umum ke Jawa dan Sumatera. Dua orang diberikan beasiswa ke Universitas Udayana, Bali, untuk spesialis anak dan THT. Seorang ke Medan ambil spesialis bedah di Universitas Sumatera Utara. Anestesi di Airlangga, Surabaya, dan rontgen di Universitas Diponegoro, Semarang, juga sedang menyelesaikan studinya.

“Jadi kelimanya kalau sudah selesai akan bertugas kembali sebagai spesialis di Bengkayang. Saat ini Bengkayang baru memiliki tiga spesialis yakni kebidanan, saraf, dan penyakit dalam,” tutur Luter W, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkayang kepada Yopi Cahyono dari Equator, kemarin.

Diakui, dokter masih kurang di Bumi Sebalo walaupun sudah didrop Kemenkes tenaga pegawai tidak tetap (PTT).

“Saat ini di Kabupaten Bengkayang ada 18 dokter PNS/ASN dan CPNS/CASN, sedangkan lainnya dokter PTT yang tersebar di 12 puskesmas dan RSUD Bengkayang,” terang Luter.

Data 2011 menunjukkan, dokter PNS/ASN dan CPNS/CASN ditempatkan di Puskesmas Sungai Raya, Monterado, Ledo, Sanggau Ledo, Seluas, Sungai Betung, dan Lumar. Sedangkan Puskesmas Teriak, Sungai Duri, Capkala, Samalantan, Lembah Bawang, dan Tujuh Belas diisi dokter PTT. Puskesmas Bengkayang, Suti Semarang, dan Siding tidak ada dokter.

“Tahun 2012 kita minta kepada Kementerian Kesehatan enam dokter PTT, yang akan kita tempatkan di daerah terpencil dan sangat terpencil. Yakni Kecamatan Lembah Bawang, Suti Semarang, dan Siding,” terangnya.

Satu dokter di puskesmas jelas tidak cukup, idealnya tiga orang. Kalau satu tugas luar atau pelatihan dan sosialisasi, masih ada dokter di puskesmas. “Di Kabupaten Bengkayang hanya ada satu dokter gigi. Itu pun di RSUD Bengkayang. Seharusnya setiap puskesmas atau berdasarkan wilayah, dokter gigi harus ada. Karena rata-rata anak-anak Bumi Sebalo bermasalah dengan gigi,” keluhnya.

Pemda Bengkayang telah berupaya untuk mendatangkan dokter spesialis gigi dengan dibukanya lowongan tersebut saat penerimaan CPNS/CASN. Tetapi tidak satu pun yang mendaftar. Padahal, peralatan rawat gigi tersedia di setiap puskesmas.

Luter menjelaskan, dokter PTT digaji oleh Kemenkes. Untuk daerah sangat terpencil gaji pokok dan tunjangan dokter PTT sebesar Rp 7,1 juta rupiah.

Kabupaten Landak baru menempatkan dua spesialis, yakni anak dan penyakit dalam yang bertugas di RSUD. Sedikitnya masih diperlukan segera tiga spesialis lagi.

“Saat ini di RSUD baru ada dua spesialis, masih kurang dua lagi. Sedangkan dokter umumnya hanya ada enam orang. Idealnya satu RSUD harus ada 10 dokter umum,” kata drg Krisman Mkes, Kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Landak.

Masih dibutuhkan dua spesialis lagi, yakni bedah dan anestesi. Satu rumah sakit harusnya ada empat dokter spesialis dan 10 dokter umum. “Ada beberapa dokter umum yang saat ini menempuh pendidikan spesialis. Yakni spesialis bedah, radiologi, dan anestesi,” papar Krisman.

Insentif dokter spesialis yang diberikan Pemkab Landak, sesuai anggaran Rp 10 juta per bulan, rumah dinas, dan satu mobil. “Jadi, hanya itu yang mampu diberikan kepada dokter spesialis di Landak,” ungkapnya.

Tak hanya spesialis, RSUD Landak juga kekurangan staf teknis. Sudah diusulkan ke Kemenkes dan diharapkan dikabulkan pusat. Dokter di RSUD Landak ada 14 orang, tiga dokter gigi, sembilan umum, dua spesialis.

Jadi kapan RSUD Landak yang baru difungsikan? “Sekarang juga kalau ada listrik sudah bisa digunakan. Sebab, listrik idealnya untuk satu RSUD kurang lebih 1,5 MW,” tandas Krisman.

Secara umum, 13 kecamatan di Landak sudah 12 puskesmas diisi oleh dokter umum dan satu dokter gigi. Dari jumlah ini yang PNS/ASN baru 4 orang sisanya masih PTT.

“Untuk dokter PTT penghasilannya dari pusat, kabupaten belum memberikan apa-apa. Mudah-mudahan tahun depan bisa membantu insentif dokter PPT yang ditugaskan di puskesmas kecamatan,” tutur Magdalena Nurayni Sitinjak, Kadis Kesehatan Kabupaten Landak kepada Equator, Kamis (9/2) di kantornya.

Sampai saat ini, nihilnya dokter spesialis di Kabupaten Sekadau belum terjawab. Pemkab Sekadau diminta mencarikan jalan terbaik untuk mengatasi persoalan itu.

Krisis dokter spesialis terus dipertanyakan masyarakat dan segera teratasi.

“Dokter yang terdata 20 orang, termasuk Kepala Dinas Kesehatan Sekadau dr Wirdan M. Tidak ada spesialis, semuanya dokter umum,” ujar dr Libra, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Sekadau, kepada Equator di Puskesmas Sekadau Hilir.

Kabupaten yang terdiri dari tujuh kecamatan, Sekadau Hilir, Sekadau Hulu, Nanga Taman, Nanga Mahap, Nanga Belitang, Belitang Hilir, dan Belitang Hulu, luasnya 5.444 km persegi.

Pemkab Sekadau memang sudah membangun rumah sakit dan puskesmas di tiap kecamatan. Namun klasifikasi rumah sakit baru menuju tipe D. Menurut Libra, setidaknya harus memiliki empat dokter utama spesialis. Masing-masing dokter spesialis dalam, anak, kebidanan, dan dokter bedah.

“Kalaupun tidak mampu empat-empatnya, seharusnya ada dua dokter spesialis,” imbuh pria yang juga Kepala Puskesmas Kecamatan Sekadau Hilir itu.

Pemkab Sekadau tentu tidak tutup mata. Bupati Simon Petrus SSos Msi malah turun tangan sendiri mencari spesialis hingga ke Makassar. Dia mendatangi FK Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk mencari solusi. “Pemkab sudah menyiasati ketiadaan dokter spesialis di Sekadau ini,” ujar Yohanes Bayen SSos MSi, Sekretaris Dinas Kesehatan Sekadau.

Rombongan Pemkab Sekadau datang ke Unhas akhir Oktober 2011 lalu, langsung dipimpin Bupati Simon Petrus. Malah ikut pula Ketua DPRD Aloysius SSos MSi, Kadiskes dr H Wirdan Mahzumi MKes, dan pejabat lainnya. Mereka mengadakan pertemuan khusus dengan pihak FK Unhas Makassar.

Dalam pertemuan tersebut pemkab berharap ada lulusan spesialis dari FK Unhas yang mau bertugas di Sekadau. Pihak Unhas mengaku akan melakukan peninjauan dulu sarana dan prasarana penunjang kerja di RSUD Sekadau. “Tapi kita belum tahu kapan mereka datang melakukan peninjauan itu,” tukas Bayen.

Selain dengan Unhas, Pemkab sudah mengomunikasikan persoalan ini dengan sejumlah rumah sakit di daerah lain. “Kita sudah mendatangi RSUD Sintang dan RSUD Sanggau,” kata Simon Petrus kepada Equator. Namun upaya tampaknya belum berhasil untuk berburu spesialis ke berbagai universitas. (aRm/cah/tar/bdu)



Posting Pusat Pengumuman CPNS Indonesia (PPCI) lainnya:



Comments are closed.